Keagungan Buddha Memancarkan Cahaya Yang Begitu Indah

Marilah Kita Semua Melakukan Yang Terbaik.

Sucikan Hati Dan Pikiran

Jauhkan Segala Dosa.

Jalan Menuju Kesempurnaan Penuh Cobaan

Kuatkan Hati Dan Iman Kita.

Belajar Seperti Buddha Maitreya

Mampu Menampung Segalanya, dan selalu tersenyum.

Hati Welas Asih

Membantu Sesama dengan hati yang tulus dan penuh cinta kasih.

Lau Se:"Ta Ci Kung"

Kita Siau Ci Kung. "Penyelamatan 3 alam"

SEMUA MENJADI SATU KELUARGA

Bersatu hati dan bergandeng tangan mengembangkan Wadah ke Tuhanan

Kamis, 10 November 2011

10 Chinese Wisdom





Berikut adalah 10 kearifan dari negeri China (Chinese wisdom):
1. Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.

2. Sebuah batu permata tidak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnya seorang manusia disempurnakan dengan cobaan hidup.

3. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama lima menit lebih baik daripada yang tidak bertanya, karena ia tetap bodoh selamanya.

5. Jika Anda ingin tak seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya.
 
6. Berikan seseorang seekor ikan, dan Anda memberinya makan untuk sehari. Ajarkan seseorang untuk menangkap ikan, dan Anda memberinya makan untuk seumur hidup.

7. Waktu terbaik untuk menanam sebuah pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, adalah: mulailah hari ini.

8. Bila Anda ingin tahu masa lalu Anda: lihatlah kondisi Anda saat ini. Bila Anda ingin tahu masa depan Anda: lihatlah tindakan-tindakan Anda saat ini.

9. Sebuah pembicaraan dengan seorang bijak adalah lebih baik daripada sepuluh tahun menuntut ilmu.

10. Hidup sebagian adalah apa yang kita tentukan, dan sebagian lagi ditentukan oleh teman-teman yang kita pilih.

________________________

*) dari berbagai sumber/internet
**) dapatkan maknanya, dan silakan bagikan kembali ke teman2 lainnya.

Kekuatan Cinta Antara Guojiang Dan Chaoqin




Cinta memang mempunyai kekuatan yang dasyat. Ketika dua insan saling jatuh cinta, maka apapun akan dilakukan untuk menyatukan cinta mereka. Berbagai halangan dan rintangan akan ditempuh untuk selalu bersama. Inilah arti kekuatan cinta sesungguhnya yang bahkan mampu menaklukkan badai di antara mereka. Hal inilah yang dialami oleh sepasang insan yang sedang memadu cinta, yakni pasangan Liu Guojiang dengan Xu Chaoqin.

Lima puluh tahun yang lalu, Liu Guojiang adalah seorang pemuda yang berusia 19 tahun. Pemuda ini jatuh cinta pada wanita yang lebih tua sepuluh tahun darinya, Xu Chaoqin namanya. Pada saat itu, masyarakat di sana tidak dapat menerima jika seorang pria mencintai seorang wanita yang usianya lebih tua apalagi Chaoqin sudah mempunyai anak.

Untuk menghindari gosip yang beredar dan cemoohan dari masyarakat setempat, mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan desa mereka untuk kawin lari. Mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah gua yang berada di dalam hutan, daerah Jiangjin, kotamadya ChongQing Selatan.  


Di sana, mereka harus hidup sendiri, tidak ada listrik dan makanan. Untuk mengisi perut, mereka terpaksa memakan rumput dan akar di gunung. Agar ada penerangan, Guojiang membuat cahaya dari lampu minyak tanah. Saat itu, Chaoqin sempat mengutarakan penyesalannnya karena kawin lari dan harus hidup di sebuah gua.

"Apakah Kamu menyesal?" tanya Chaoqin. Dengan ketulusan Guojiang menjawab, "Selama kita tekun, hidup kita pasti akan lebih baik." Di tahun kedua, mereka mulai tekun membangun hidup mereka di gua. Untuk naik turun gunung, demi cintanya, Guojiang membuat anak tangga satu per satu, tahun demi tahun. Semua itu dikerjakan seorang diri dan hanya menggunakan kekuatan tangan.


Pada pertengahan tahun 2001, sebuah kelompok petualang datang ke hutan tersebut untuk menjelajahi hutan tersebut. Betapa terkejutnya mereka karena menemukan sepasang suami istri yang menetap di hutan dan ada 6000 tanjakan yang dibuat dari tangan. Mereka juga menemukan tujuh anak buah cinta Guojiang dan Chaoqin.


"Orangtua saya saling mencintai satu sama lain, mereka dapat hidup bersama selama lima puluh tahun dan tidak pernah berpisah dalam keseharian mereka. Ayah membuat 6000 injakan untuk membuat ibu merasa nyaman, sehingga ia lebih mudah untuk turun dan naik gunung." Demikian papar Liu MingSheng, anak ketujuh dari Guojiang dan Chaoqin.


Kisah nyata mengenai perjuangan cinta antara Guojiang dan Chaoqin asal China menarik untuk diikuti. Kisah lima puluh tahun yang lalu yang kini menjadi kisah cinta yang sangat menyentuh dan kisah ini membuktikan arti kekuatan cinta sejati yang sesungguhnya.

Pianis Tanpa Lengan Menang China’s Got Talent


Masih ingat dengan Liu Wei (23 tahun), yang diberitakan Redaksi bulan Agustus lalu? Ia pianis tanpa lengan (kedua lengannya harus diamputasi pada usia 10 karena tersetrum listrik dalam permainan petak umpet). Namun ia tetap bisa tampil memukau di depan ribuan penonton acara penyisihan "China's Got Talent" di Shanghai Grand Theatre. Dengan jari-jari kakinya, ia sukses membawakan karya klasik milik pianis ternama asal Prancis, Richard Clayderman, yakni "Mariage D'amour".

Liu Wei bilang, biarpun anggota tubuhnya tak lengkap, ia ikut ajang "China's Got Talent" dengan target besar dan menantang: masuk 3 besar.

"Kita tetap harus bermimpi dan berupaya mengejar sukses yang didambakan," demikian alasan Liu waktu itu. "Secara pribadi, saya juga ingin membuat orangtua bangga."

Sedikit demi sedikit, pemuda asal Beijing yang mulai berlatih piano pada usia 18 tahun ini, mendekati mimpinya. Ia berhasil mengumpulkan banyak suara dari pemirsa dan lolos ke semifinal pada bulan September.

"Berapa banyak waktu yang kamu habiskan, untuk persiapan tampil di semifinal?" tanya pembawa acara, sebelum sang pianis beraksi.

"Saya menghabiskan seluruh waktu yang saya miliki," jawab Liu singkat.

"Dengan kondisi tidak punya lengan, kenapa kamu malah memilih untuk berkarir sebagai pianis? Bukankah itu akan sangat menyulitkan?" seorang juri ikut bertanya.

"Saya tidak bisa hidup tanpa udara, air, dan musik," demikian jawab Liu. Jawaban yang sederhana, tapi menyentuh.

Setelah itu, Liu Wei tampil memukau. Tidak hanya bermain piano, ia juga menyanyikan sebuah lagu: "The Price of Love"! Usai tampil, penonton memberinya sambutan meriah dan ketiga juri memberikan standing ovation (penghormatan sambil berdiri). Melalui penampilannya itu, sang pianis tanpa lengan masuk ke babak final.

Pada babak pemuncak tersebut, Minggu (10/10), Liu Wei berhasil mengalahkan komedian berusia 7 tahun, Zhang Fengxi. Ia membuat penonton terkesan dengan bakat dan penampilannya saat menyanyikan lagu "You're Beautiful" sambil memainkan piano.

Pada acara penganugerahan, Liu diundang penyanyi Taiwan, Jolin Tsai, untuk menjadi seorang pemain tamu dalam tur keliling dunia Tsai. Hal itu akan memberi kesempatan kepada Liu untuk tampil di Las Vegas selama tiga bulan.

Sekadar info, "China's Got Talent" adalah acara pertujukan bakat di televisi yang memulai debutnya pada Mei lalu dan popularitasnya terus meningkat. Acara semifinal pada 26 September lalu berada pada peringkat teratas program televisi nasional. Direktur acara itu, Jin Lei, mengatakan kepada harian Shanghai Daily bahwa keberhasilan acara tersebut memastikan bahwa program ini akan berlanjut tahun depan.

"China memiliki begitu banyak bakat di ‘akar rumput' yang belum ditampilkan dan kami yakin vitalitas dan popularitas acara ini akan bertahan untuk jangka waktu tiga hingga lima tahun," kata Jin.

Tae-Ho, Bocah Tanpa Lengan yang Berjiwa Besar



Tae-Ho adalah seorang anak lelaki asal Korea Selatan yang dilahirkan ke dunia ini dengan keadaan khusus: anggota tubuh yang tidak lengkap. Ia tidak memiliki lengan dan pada bagian kakinya hanya terdapat empat jari. Tim medis yang menangani proses kelahirannya (tahun 2000), memprediksi bahwa bocah malang ini tidak memiliki kemungkinan bertahan hidup hingga 10 tahun.
Seakan-akan ketidakberuntungan yang menimpanya belum cukup, tak lama setelah lahir, Tae-Ho ditinggalkan oleh orangtua kandungnya sendiri karena mereka tidak tahan melihat kondisi anak yang telah dilahirkannya. Maka, Tae-Ho pun dikirim ke panti asuhan di Seung Ga-Won, Korea Selatan oleh Holt (Children Service Incorporated).

Lantas, apa yang terjadi pada Tae-Ho? Ia masih hidup sampai saat ini. Usianya 11 tahun dan ia telah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menyenangkan. Meskipun memiliki kekurangan, ia tidak mau bergantung pada orang lain dan tidak mudah menyerah. Semua kegiatan ia lakukan sendiri termasuk makan dan mengganti pakaian.
 
 
Lihatlah video yang menggambar keseharian Tae-Ho, di bawah ini. Terbukti kan, bahwa Tae-Ho adalah anak lelaki yang berhati teguh dan berpikiran positif ? Ia selalu menghadapi segala hal dengan senyuman. Ketika ditanya, apakah ia mengalami kesulitan karena keadaan tubuhnya, ia menjawab, "Tidak, saya baik-baik saja!" Bahkan Tae-Ho selalu membantu saudara-saudaranya di panti asuhan. Tae-Ho pun mampu menjalani kegiatan belajar dan bermain di sekolah seperti anak-anak normal lainnya.

Kisah Tae-Ho ini tentunya dapat menginspirasi kita, di balik kekurangannya terdapat jiwa besar yang sangat luar biasa! Melalui Te-Ho pula, kita diingatkan untuk selalu mensyukuri kehidupan (apalagi jika kita memiliki tubuh yang sempurna). Kombinasikan jiwa positif, semangat teguh, dan senyuman, maka kehidupan yang cerah ada di tangan kita semua.

Membangkitkan Jiwa Kepahlawanan di Dalam Diri




Hari ini, 10 November 2011,Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari besar ini diperingati mengacu pada peristiwa tanggal 10 November 1945 ketika terjadi Pertempuran Surabaya.
Peristiwa itu merupakan perang pertama pasukan Indonesia melawan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Selain itu ini juga merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Dari sini lahirlah Hari Pahlawan yang selalu diperingati setiap tanggal 10 November.

Jika puluhan tahun silam, para pahlawan pembela negara berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan, apa yang bisa kita lakukan di masa kini? Jiwa-jiwa kepahlawanan seperti apa yang bisa kita kontribusikan pada diri dan sekeliling untuk menjadikan lingkungan kita lebih baik? Apakah kita sendiri bisa berperan layaknya pahlawan?

Menurut sebuah kamus, pahlawan adalah orang yang menonjol arena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.Kata "pahlawan" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta "phala-wan" yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Bukan hanya bagi negara, tetapi bisa juga bagi semuanya. Pahlawan keluarga, pahlawan pendidikan, pahlawan kesehatan, pahlawan kemiskinan, dan pahlawan-pahlawan lainnya.

Oleh karena itu, tindakan-tindakan kecil yang dilandasi dengan niat baik dan ketulusan, sebenarnya cukup untuk memunculkan "pahlawan-pahlawan" dalam diri kita. Namun, semua itu tak kan tergerak, jika tak dimunculkan oleh kita dan tak dibiasakan dalam keseharian kita. Menjadi pahlawan sebenarnya bukan semata menjadi "sang penyelamat", tapi menjadi sang penyemangat, sang penggerak, sang pelopor, dan berbagai hal positif lainnya yang bisa kita tularkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, mari mulai kita lakukan hal-hal kecil dan sederhana, untuk menjadikan sekeliling kita lebih dan lebih baik lagi.... Sehingga, suatu saat nanti, akan muncul lebih banyak lagi "pahlawan-pahlawan" yang menjadikan dunia kita lebih indah dan bermakna...

Kamis, 03 November 2011

Ibu Yang Menyelamatkan Ku

Seperti kebanyakan Anda tahu,  masi teringat dibenak kita saat gempa bumi terjadi diWenchuan Cina beberapa tahun yang lalu. lebih dari30 ribu orang tewas. Saya sangat sedih dengan kejadian yang terjadi di Cina.
Ada banyak kisah-kisah menyentuh dari gempa Wenchuan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, untuk Anda bisa membacanya. Saya pikir Ini sebuah kisah yang tidak harus tinggal hanya dalam negara Cina, tetapi mesti dikenang untuk selamanya.
Ketika tim penyelamat menemukan sesosok jenazah, dia sudah mati, hancur oleh rumah yang ambruk. Melalui celah-celah reruntuhan, mereka bisa melihat postur tubuhnya. Berlutut pada kedua lutut, seluruh tubuhnya membungkuk ke arah atas, ditompang oleh kedua tangannya yang menempel ke tanah, seolah-olah melakukan upacara busur dalam ritual Except kuno, tubuhnya telah dikompresi keluar dari bentuk dan tampak agak menakutkan. Penyelamat mengulurkan tangan melalui celah dan mengkonfirmasikan kematiannya. Dia memanggilnya, dan mengetuk batu bata dengan poros, tapi tidak mendapat tanggapan apapun.
Dan tim penyelamat mulai berjalan menuju gedung berikutnya, dan tiba-tiba ada yang berteriak kepada pemimpin pasukan untuk berbalik, berteriak sambil berlari, "Ayo cepat!" Dia berlari mendatangi kejadian semula, bekerja keras untuk membongkar reruntuhan bangunan diatas tubuhnya, dan mulai mencari-cari apakah masi ada tanda-tanda kehidupan.
Tim penyelamat berteriak sambil mengobrak-abrik reruntuhan itu,
"Ada seseorang, seorang anak, masih hidup".
Dengan susah payah, penyelamat dengan hati-hati menyingkirkan reruntuhan yang menguburnya, dan menemukan anak itu berbaring di bawah ibu nya yan telah meninggal, terbungkus dalam selimut merah kecil dihiasi dengan bunga kuning, anak itu sekitar 3-4 bulan.
Terlindung oleh tubuh ibunya, Ia benar-benar tidak terluka, tidur tenang saat dia dibawa keluar. Wajahnya tertidur menghangatkan hati semua penolong di tempat kejadian. Sebagai dokter tim penyelamat yang membuka selimut untuk memeriksa bayi itu, ia menemukan sebuah ponsel terselip di selimut, dan  melihat ada sebuah pesan.
" Untuk anakku, Jika kamu selamat, inggatlah, mama mencintai kamu selamanya. "dokter yang membacanya, menangis saat itu. Ponsel itu ditunjukan kepada semua orang yang ada di sekitar itu, dan setiap orang yang membaca pesan tersebut menangis.
sumber: Inspirasi hidup,dan berbagai sumber

Minggu, 23 Oktober 2011


                                                  Fothang Tanjung Duren, Jakarta (test)