Keagungan Buddha Memancarkan Cahaya Yang Begitu Indah

Marilah Kita Semua Melakukan Yang Terbaik.

Sucikan Hati Dan Pikiran

Jauhkan Segala Dosa.

Jalan Menuju Kesempurnaan Penuh Cobaan

Kuatkan Hati Dan Iman Kita.

Belajar Seperti Buddha Maitreya

Mampu Menampung Segalanya, dan selalu tersenyum.

Hati Welas Asih

Membantu Sesama dengan hati yang tulus dan penuh cinta kasih.

Lau Se:"Ta Ci Kung"

Kita Siau Ci Kung. "Penyelamatan 3 alam"

SEMUA MENJADI SATU KELUARGA

Bersatu hati dan bergandeng tangan mengembangkan Wadah ke Tuhanan

Kamis, 10 November 2011

Vegan kwetiau sop..yummyy.

 
Bumbu halusnya jahe, sere, kunyit, lengkuas, diongseng masukan ke dlm air buat kuah.. beri tomat, wortel, kentang, kaki jamur,.daun seledri utuh..beri bumbu..buat kuah kita berikan gula batu+garam+lada+peka..jadi tdk perlu selalu pakai mokucing (penyedap vegan)..buat taburan penyajiannya kol goreng+irisan seledri+kecap manis..と(ˆڡˆ)う¸.ƞƴɐm ƞƴɐm ƞƴɐm¸.•*(y)

Mimpi dan Berjuang!




Dikisahkan, pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island. Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu. Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.

Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan. Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impaian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata. Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Tuhan berbicara dengan pertanda, tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, "Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!" Dengan sekuat tenaga ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia. Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan. Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang. Mereka melalui berbagai kendala yang tidak sedikit jumlahnya. Butuh waktu panjang untuk berjuang dengan semua sisa kekuatan dan ketegarannya, dan butuh waktu selama 13 tahun untuk mewujudkan impiannya. Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.



Teman-teman yang luar biasa,

Cerita di atas merupakan sebuah contoh bahwa pikiran positif dan perjuangan nyata mampu memegang erat mimpi dan bisa mewujudkan apa yang sekiranya tidak mungkin menjadi mungkin!

Betapa luar biasanya kekuatan pikiran manusia! Pikiran manusia bisa membuat hidup menjadi sengsara atau bahagia, gagal atau sukses, biasa-biasa saja atau luar biasa. Kalau kita mengikuti pikiran yang negatif, maka kehidupan kita isinya akan negatif pula; hidup penuh kecemasan, pasif, ketakutan dan kekurangan. Namun jika kita mampu mengembangkan pikiran yang positif, optimis, dan senantiasa berpengharapan yang positif, serta punya komitmen tinggi dalam mewujudkan segala impiannya, maka kita akan hidup penuh gairah, syukur, gembira, sukses, dan bahagia... setiap hari!

Mari kita pilih hidup dengan pola pikir yang positif. Kita pilih hidup dengan aktivitas yang positif. Dan kita pilih agar kualitas kita hidup berguna bagi kita dan bagi banyak orang...

10 Chinese Wisdom





Berikut adalah 10 kearifan dari negeri China (Chinese wisdom):
1. Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.

2. Sebuah batu permata tidak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnya seorang manusia disempurnakan dengan cobaan hidup.

3. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama lima menit lebih baik daripada yang tidak bertanya, karena ia tetap bodoh selamanya.

5. Jika Anda ingin tak seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya.
 
6. Berikan seseorang seekor ikan, dan Anda memberinya makan untuk sehari. Ajarkan seseorang untuk menangkap ikan, dan Anda memberinya makan untuk seumur hidup.

7. Waktu terbaik untuk menanam sebuah pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, adalah: mulailah hari ini.

8. Bila Anda ingin tahu masa lalu Anda: lihatlah kondisi Anda saat ini. Bila Anda ingin tahu masa depan Anda: lihatlah tindakan-tindakan Anda saat ini.

9. Sebuah pembicaraan dengan seorang bijak adalah lebih baik daripada sepuluh tahun menuntut ilmu.

10. Hidup sebagian adalah apa yang kita tentukan, dan sebagian lagi ditentukan oleh teman-teman yang kita pilih.

________________________

*) dari berbagai sumber/internet
**) dapatkan maknanya, dan silakan bagikan kembali ke teman2 lainnya.

Kekuatan Cinta Antara Guojiang Dan Chaoqin




Cinta memang mempunyai kekuatan yang dasyat. Ketika dua insan saling jatuh cinta, maka apapun akan dilakukan untuk menyatukan cinta mereka. Berbagai halangan dan rintangan akan ditempuh untuk selalu bersama. Inilah arti kekuatan cinta sesungguhnya yang bahkan mampu menaklukkan badai di antara mereka. Hal inilah yang dialami oleh sepasang insan yang sedang memadu cinta, yakni pasangan Liu Guojiang dengan Xu Chaoqin.

Lima puluh tahun yang lalu, Liu Guojiang adalah seorang pemuda yang berusia 19 tahun. Pemuda ini jatuh cinta pada wanita yang lebih tua sepuluh tahun darinya, Xu Chaoqin namanya. Pada saat itu, masyarakat di sana tidak dapat menerima jika seorang pria mencintai seorang wanita yang usianya lebih tua apalagi Chaoqin sudah mempunyai anak.

Untuk menghindari gosip yang beredar dan cemoohan dari masyarakat setempat, mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan desa mereka untuk kawin lari. Mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah gua yang berada di dalam hutan, daerah Jiangjin, kotamadya ChongQing Selatan.  


Di sana, mereka harus hidup sendiri, tidak ada listrik dan makanan. Untuk mengisi perut, mereka terpaksa memakan rumput dan akar di gunung. Agar ada penerangan, Guojiang membuat cahaya dari lampu minyak tanah. Saat itu, Chaoqin sempat mengutarakan penyesalannnya karena kawin lari dan harus hidup di sebuah gua.

"Apakah Kamu menyesal?" tanya Chaoqin. Dengan ketulusan Guojiang menjawab, "Selama kita tekun, hidup kita pasti akan lebih baik." Di tahun kedua, mereka mulai tekun membangun hidup mereka di gua. Untuk naik turun gunung, demi cintanya, Guojiang membuat anak tangga satu per satu, tahun demi tahun. Semua itu dikerjakan seorang diri dan hanya menggunakan kekuatan tangan.


Pada pertengahan tahun 2001, sebuah kelompok petualang datang ke hutan tersebut untuk menjelajahi hutan tersebut. Betapa terkejutnya mereka karena menemukan sepasang suami istri yang menetap di hutan dan ada 6000 tanjakan yang dibuat dari tangan. Mereka juga menemukan tujuh anak buah cinta Guojiang dan Chaoqin.


"Orangtua saya saling mencintai satu sama lain, mereka dapat hidup bersama selama lima puluh tahun dan tidak pernah berpisah dalam keseharian mereka. Ayah membuat 6000 injakan untuk membuat ibu merasa nyaman, sehingga ia lebih mudah untuk turun dan naik gunung." Demikian papar Liu MingSheng, anak ketujuh dari Guojiang dan Chaoqin.


Kisah nyata mengenai perjuangan cinta antara Guojiang dan Chaoqin asal China menarik untuk diikuti. Kisah lima puluh tahun yang lalu yang kini menjadi kisah cinta yang sangat menyentuh dan kisah ini membuktikan arti kekuatan cinta sejati yang sesungguhnya.

Pianis Tanpa Lengan Menang China’s Got Talent


Masih ingat dengan Liu Wei (23 tahun), yang diberitakan Redaksi bulan Agustus lalu? Ia pianis tanpa lengan (kedua lengannya harus diamputasi pada usia 10 karena tersetrum listrik dalam permainan petak umpet). Namun ia tetap bisa tampil memukau di depan ribuan penonton acara penyisihan "China's Got Talent" di Shanghai Grand Theatre. Dengan jari-jari kakinya, ia sukses membawakan karya klasik milik pianis ternama asal Prancis, Richard Clayderman, yakni "Mariage D'amour".

Liu Wei bilang, biarpun anggota tubuhnya tak lengkap, ia ikut ajang "China's Got Talent" dengan target besar dan menantang: masuk 3 besar.

"Kita tetap harus bermimpi dan berupaya mengejar sukses yang didambakan," demikian alasan Liu waktu itu. "Secara pribadi, saya juga ingin membuat orangtua bangga."

Sedikit demi sedikit, pemuda asal Beijing yang mulai berlatih piano pada usia 18 tahun ini, mendekati mimpinya. Ia berhasil mengumpulkan banyak suara dari pemirsa dan lolos ke semifinal pada bulan September.

"Berapa banyak waktu yang kamu habiskan, untuk persiapan tampil di semifinal?" tanya pembawa acara, sebelum sang pianis beraksi.

"Saya menghabiskan seluruh waktu yang saya miliki," jawab Liu singkat.

"Dengan kondisi tidak punya lengan, kenapa kamu malah memilih untuk berkarir sebagai pianis? Bukankah itu akan sangat menyulitkan?" seorang juri ikut bertanya.

"Saya tidak bisa hidup tanpa udara, air, dan musik," demikian jawab Liu. Jawaban yang sederhana, tapi menyentuh.

Setelah itu, Liu Wei tampil memukau. Tidak hanya bermain piano, ia juga menyanyikan sebuah lagu: "The Price of Love"! Usai tampil, penonton memberinya sambutan meriah dan ketiga juri memberikan standing ovation (penghormatan sambil berdiri). Melalui penampilannya itu, sang pianis tanpa lengan masuk ke babak final.

Pada babak pemuncak tersebut, Minggu (10/10), Liu Wei berhasil mengalahkan komedian berusia 7 tahun, Zhang Fengxi. Ia membuat penonton terkesan dengan bakat dan penampilannya saat menyanyikan lagu "You're Beautiful" sambil memainkan piano.

Pada acara penganugerahan, Liu diundang penyanyi Taiwan, Jolin Tsai, untuk menjadi seorang pemain tamu dalam tur keliling dunia Tsai. Hal itu akan memberi kesempatan kepada Liu untuk tampil di Las Vegas selama tiga bulan.

Sekadar info, "China's Got Talent" adalah acara pertujukan bakat di televisi yang memulai debutnya pada Mei lalu dan popularitasnya terus meningkat. Acara semifinal pada 26 September lalu berada pada peringkat teratas program televisi nasional. Direktur acara itu, Jin Lei, mengatakan kepada harian Shanghai Daily bahwa keberhasilan acara tersebut memastikan bahwa program ini akan berlanjut tahun depan.

"China memiliki begitu banyak bakat di ‘akar rumput' yang belum ditampilkan dan kami yakin vitalitas dan popularitas acara ini akan bertahan untuk jangka waktu tiga hingga lima tahun," kata Jin.

Tae-Ho, Bocah Tanpa Lengan yang Berjiwa Besar



Tae-Ho adalah seorang anak lelaki asal Korea Selatan yang dilahirkan ke dunia ini dengan keadaan khusus: anggota tubuh yang tidak lengkap. Ia tidak memiliki lengan dan pada bagian kakinya hanya terdapat empat jari. Tim medis yang menangani proses kelahirannya (tahun 2000), memprediksi bahwa bocah malang ini tidak memiliki kemungkinan bertahan hidup hingga 10 tahun.
Seakan-akan ketidakberuntungan yang menimpanya belum cukup, tak lama setelah lahir, Tae-Ho ditinggalkan oleh orangtua kandungnya sendiri karena mereka tidak tahan melihat kondisi anak yang telah dilahirkannya. Maka, Tae-Ho pun dikirim ke panti asuhan di Seung Ga-Won, Korea Selatan oleh Holt (Children Service Incorporated).

Lantas, apa yang terjadi pada Tae-Ho? Ia masih hidup sampai saat ini. Usianya 11 tahun dan ia telah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menyenangkan. Meskipun memiliki kekurangan, ia tidak mau bergantung pada orang lain dan tidak mudah menyerah. Semua kegiatan ia lakukan sendiri termasuk makan dan mengganti pakaian.
 
 
Lihatlah video yang menggambar keseharian Tae-Ho, di bawah ini. Terbukti kan, bahwa Tae-Ho adalah anak lelaki yang berhati teguh dan berpikiran positif ? Ia selalu menghadapi segala hal dengan senyuman. Ketika ditanya, apakah ia mengalami kesulitan karena keadaan tubuhnya, ia menjawab, "Tidak, saya baik-baik saja!" Bahkan Tae-Ho selalu membantu saudara-saudaranya di panti asuhan. Tae-Ho pun mampu menjalani kegiatan belajar dan bermain di sekolah seperti anak-anak normal lainnya.

Kisah Tae-Ho ini tentunya dapat menginspirasi kita, di balik kekurangannya terdapat jiwa besar yang sangat luar biasa! Melalui Te-Ho pula, kita diingatkan untuk selalu mensyukuri kehidupan (apalagi jika kita memiliki tubuh yang sempurna). Kombinasikan jiwa positif, semangat teguh, dan senyuman, maka kehidupan yang cerah ada di tangan kita semua.

Membangkitkan Jiwa Kepahlawanan di Dalam Diri




Hari ini, 10 November 2011,Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hari besar ini diperingati mengacu pada peristiwa tanggal 10 November 1945 ketika terjadi Pertempuran Surabaya.
Peristiwa itu merupakan perang pertama pasukan Indonesia melawan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Selain itu ini juga merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Dari sini lahirlah Hari Pahlawan yang selalu diperingati setiap tanggal 10 November.

Jika puluhan tahun silam, para pahlawan pembela negara berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan, apa yang bisa kita lakukan di masa kini? Jiwa-jiwa kepahlawanan seperti apa yang bisa kita kontribusikan pada diri dan sekeliling untuk menjadikan lingkungan kita lebih baik? Apakah kita sendiri bisa berperan layaknya pahlawan?

Menurut sebuah kamus, pahlawan adalah orang yang menonjol arena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.Kata "pahlawan" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta "phala-wan" yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Bukan hanya bagi negara, tetapi bisa juga bagi semuanya. Pahlawan keluarga, pahlawan pendidikan, pahlawan kesehatan, pahlawan kemiskinan, dan pahlawan-pahlawan lainnya.

Oleh karena itu, tindakan-tindakan kecil yang dilandasi dengan niat baik dan ketulusan, sebenarnya cukup untuk memunculkan "pahlawan-pahlawan" dalam diri kita. Namun, semua itu tak kan tergerak, jika tak dimunculkan oleh kita dan tak dibiasakan dalam keseharian kita. Menjadi pahlawan sebenarnya bukan semata menjadi "sang penyelamat", tapi menjadi sang penyemangat, sang penggerak, sang pelopor, dan berbagai hal positif lainnya yang bisa kita tularkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, mari mulai kita lakukan hal-hal kecil dan sederhana, untuk menjadikan sekeliling kita lebih dan lebih baik lagi.... Sehingga, suatu saat nanti, akan muncul lebih banyak lagi "pahlawan-pahlawan" yang menjadikan dunia kita lebih indah dan bermakna...